7.14.2013
Jeda
Jeda
berkesudahan disini sudah
dialektika tak berharga - dada yang terlempar
turun disenjakala rusaknya semua nilai
duduk tak sepadan - menyisih dari jemaah yang ramai
lidah yang tertelan - meludah ke langit yang terurai
kuyup - seandainya jeda
aku tidak tahu kalau sudah mulai
diawali tidak bertulang
diakhiri tidak bertulang
sejurus yang tak terlihat - ia kembali mengintai
membuatmu menunggu
musuh bebuyutan yang paling menjatuhkan mental
seharusnya menangis kurindukan rumah
untuk maafku yang paling besar
tiada tempat berlari sepanjang zaman
kuturutkan engkau
bahkan ketika kulihat jejakmu yang paling lamat
semakin menjadi
ku-obsesikan diri sendiri
tidak ada yang membingungkan sepertimu lagi
Sidoarjo, 2003
Buku#1: Kelabu Nomor Wahid
